Materi

[Materi][twocolumns]

Ulasan Novel Mendayung Impian Karya Reyhan M. Abdurrohman

review novel mendayung impian

Ulasan Novel “Mendayung Impian” Karya Reyhan M. Abdurrohman

Oleh Umi Qodarsasi, M.A.


Secara garis besar, Novel yang berjudul Mendayung Impian  mempunyai unsur ke-Indonesia-an yang kental. Membaca novel ini, saya seperti flashback, mengembalikan saya pada masa satu tahun saya bertugas menjadi Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar di salah satu pulau di sudut negeri. Saya bertugas di Kabupaten Kepualauan Sangihe, Sulawesi Utara. Fenomena-fenomena yang disajikan penulis dalam novel ini sangat mirip dengan pengalaman-pengalaman saya selama bertugas di sana pada tahun 2013-2014. Novel ini bisa menjadi oase di tengah-tengah menurunnya nilai-nilai nasionalisme yang tengah tergempur oleh globalisasi dan derasnya arus hubungan internasional.

Ada beberapa hal yg bisa saya highlight pada novel ini :

1. Sense of Social Movement


Vano, tokoh utama pada novel ini menjadi model seorang pemuda dengan tingkat kepekaan sosial yang tinggi. Kondisi ekonomi menengah ke atas dan background pendidikan yang bagus tidak lantas menjadikannya sebagai individu yang individualis dan apatis dengan problem yang dimiliki masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Justru dia ingin berbagi apa yang dimilikinya dan mengabdikannya untuk kemajuan orang lain. Vano menjadi jawaban bagi pemuda masa kini. Melihat problem yang dimiliki oleh bangsa ini, hal yang kita lakukan sebagai pemuda adalah bertanya pada diri sendiri, ‘what should I do?then take action, do something untuk mengatasi masalah itu, dimulai dari diri sendiri. Vano menjadi contoh pemuda yang tidak hanya berwacana tapi juga turun tangan.

2. Keberanian mengambil Resiko, Keluar dari zona nyaman


Vano, tokoh utama dalam novel ini betul-betul memahami risiko dari keputusannya. Dia akan meninggalkan zona nyamannya, rumah mewah beserta fasilitasnya, networking, status sosial dan segala kemudahan-kemudahan yang dimilikinya. Dia akan menuju salah satu daerah pedalaman di Indonesia, di mana kondisi infrastruktur masih sangat minim (jalan, transportasi, komunikasi, fasilitas kesehatan, pendidikan, dll), datang dengan melepas status sosialnya, hidup dengan kondisi yang sangat terbatas, berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda suku dan budaya. Banyak hal yang dikorbankan untuk tujuan yang mulia, mencerdaskan anak bangsa.Vano secara sadar mengambil pilihan itu dan siap berjuang untuk itu.

3. Pengenalan salah satu suku di Indonesia


Membaca novel Mendayung Impian ini membuat kita mengenal salah satu suku di Indonesia, yaitu Suku Dayak, lebih spesifik lagi mereka yang tinggal di Kampung Meliau, Putussibau Kalimantan Barat. Saya rasa penulis telah melakukan banyak riset tentang suku ini sehingga mampu memberikan gambaran yang cukup komperehensif tentang suku ini dan kesehariannya, mambuat kita sebagai pembaca ikut menyelami kehidupan dan kebiasaan masyarakat di sana. Rumah adat di sana yang bernama Bentang Panjang, Tari Ngajat untuk menjemput tamu, Pakaian adat tenun yang dikerjakan oleh beberapa orang di kampung, Bahasa Dayak yang salah satunya terlihat dari panggilan Apai dan Inai yang berarti Bapak dan Ibu. Kita sebagai orang Jawa, tentu sangat menarik untuk mengetahui seluk beluk suku lain, agar kita tahu betapa Indonesia kaya akan keragaman suku dan budaya Indonesia. Hal ini sekaligus menghilangkan prasangka dan sentimen kesukuan. Seringkali kita mendeskripsikan Orang Dayak itu keras, namun dalam novel ini Penulis memberikan sebuah fakta bagi kita bahwa masyarakat Dayak adalah masyarakat yang terbuka, ramah terhadap orang baru, suka gotong-royong dan membantu orang lain. Tidak hanya di masyarakat Dayak, saya juga merasakan hak yang serupa ketika bertugas di Sangihe. Anggapan-anggapan saya sebelumnya benar-benar terpatahkan. Ya begitulah karakter masyarakat Indonesia pada umumnya, kenapa hal itu jarang kita temukan di perkotaan? Arus modernitas perlahan menggerus karakter itu.

4. Proses Adaptasi Budaya


Dalam novel diceritakan Vano berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan baru di Kampung Dayak yang sangat jauh berbeda dengan budaya di Jawa, khususnya di Kudus. Sebagai negara multikultural, penting bagi kita untuk memahami hal ini. Kita harus pandai bertoleransi dan beradaptasi. Kita tidak lantas menganggap suku budaya kita lebih superior dibandingkan dengan suku budaya lainnya. Semakin kita belajar, maka akan semakin bertambah pula kebijaksanaan dalam diri kita. Dalam novel diceritakan, sekalipun Vano pada awalnya tidak menyukai jenis makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat Kampung Dayak, namun dia berusaha untuk membiasakan diri. 

5. Kondisi pendidikan di daerah terpencil


Novel ini mengajak kita untuk berempati terhadap kondisi pendidikan di daerah terpencil. Salah satu indikator kemajuan bangsa adalah kondisi pendidikan, dan ternyata pekerjaan rumah kita masih banyak, pendidikan di Indonesia masih belum merata. Tidak hanya menjadi tugas pemerintah, namun juga tanggung jawab kita sebagai orang terdidik untuk ikut melunasi janji kemerdekaan. Dalam novel digambarkan bahwa fasilitas sekolah masing sangat minim, jumlah guru sangat terbatas dengan sumber daya yang masih rendah, dan kesejahteraan guru yang masih juga belum terpenuhi. Namun, ada kabar gembira dibalik itu, meskipun jauh dari sejahtera, tapi masih ada guru-guru yang ikhlas mengabdi dan mengerahkan apa yang dia miliki untuk masa depan anak-anak. Siswa-siswi, meski sangat minim fasilitas dan harus melalui medan yang tak mudah untuk ke sekolah, mereka tetap semangat untuk terus menuntut ilmu, tak ada kata lelah. Kemudian, ternyata banyak sekali mutiara-mutiara terpendam yang ditemukan di daerah terpencil. Mereka juga anak-anak pintar dan berbakat, hanya saja bagaimana guru menemukan dan mengasah bakat itu. Dalam novel diceritakan dua siswi yang memenangkan lomba puisi di Kabupaten.

6. Khas Remaja/ pemuda-pemudi


Kekaguman dan ketertarikan pada lawan jenis, namun dalam bingkai positif. Vano mengagumi Lestari karena pengabdiannya dan perjuangannya menjadi guru. 

Bumbu drama : penculikan Lestari. Kehidupan di masyarakat juga tak lepas dari problem sosial yang berupa tindakan kriminal. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab hal itu.



Saran :

Salah satu konflik dalam novel Mendayung Impian ini adalah keotoriteran ayah kepada Vano. Vano tidak mempunyai pilihan dan hanya menjadi robot. Mungkin akan lebih menarik apabila dalam konflik tersebut kemudian muncul negosiasi antara Ayah dan Vano dengan melibatkan anggota keluarga lainnya. Sebagai lulusan luar negeri tentu Vano banyak mendapatkan input keilmuan, juga pelajaran hidup. Karakter Vano yang ditampilkan sebagai robot justru dapat meng-underestimate kekayaan ilmu dan pengalaman yang dimilikinya. Padahal setiap manusia mengalami transformasi dalam hidupnya, sense of social movement yang dimiliki Vano merupakan hasil dari transformasi yang positif itu. Jadi akan lebih bagus lagi jika Vano diberikan “posisi” di mata orang tuanya. Bagaimana Vano beropini dan meyakinkan orang tuanya atas niat pengabdiannya itu.



Kudus, 10 Desember 2016
“Kami tunggu karyamu selanjutnya Kak Reyhan
Kudus bangga punya penulis muda berbakat sepertimu.”


bedah buku novel mendayung impian
Kak Reyhan sedang menceritakan sekilas tentang novel Mendayung Impian

kelas inspirasi kudus
Kak Umi menyampaikan ulasannya dengan lugas

kudus extention mall
Peserta Bedah Buku antusias

No comments:

Kegiatan

[Kegiatan][bleft]

Karya Kami

[Karya Kami][bleft]

Galeri

[Galeri][twocolumns]