Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi Mini

Dewi Merah - Flash Fiction Roro Halif Nureviana

Gambar
Dewi Merah Oleh: Roro Halif Nureviana* Alkisah, hiduplah seorang Dewi Merah yang begitu penuh kasih. Dia adalah anak pertama dari Dewa Agung Penguasa Alam yang memiliki 7 orang anak. Sang Dewi begitu mengasihi bumi, hingga Ia merajut warna merah yang diambil dari kaki kanannya dan membentuknya menjadi bunga mawar. Sungguh indahnya membuat setiap decak kagum dari alam memujanya. Ketika langit mendengarnya, Ia merasa iri. “Wahai Dewi, mengapa engkau begitu pilih kasih? Berikan warnamu juga padaku sehingga aku semakin indah seperti mawar itu.” Dewi pun merajut merah pada langit dari merah kaki kirinya. Maka kita bisa melihat semburat itu kala senja menjelang. Matahari tidak mau kalah. Ia pun memohon kepada Dewi keindahan warnanya. “Kau terlalu jauh. Walaupun kuberikan, tidak akan ada yang bisa melihat warnamu bila tidak melihatnya dari dekat.” “Tak apalah Dewi, selama aku bisa semakin indah,” kata Matahari. Dewi kembali merajut merah dari tangan kanannya.Maka kita b...

Doa Rengginang - Fiksi Mini Reyhan M Abdurrohman

Gambar
Rengginang (c) wikipedia Doa Rengginang Oleh: Reyhan M Abdurrohman Emak terus membuat rengginang, padahal masih punya banyak persediaan. Tidak laku. Tapi dia terus membuat rengginag. Ratih, anak bungsunya sudah melarang emaknya membuat rengginang. Katanya, Ratih sudah bekerja, gajinya besar, emak istirahat saja. Tapi emak bersikeras tetap membuat rengginang, meski stoknya masih segudang. Suatu pagi, rengginang-rengginang yang berada di gudang hilang. Tak tersisa satu pun, bahkan rengginang yang belum digoreng pun raib. Emak histeris. "Ada maling!" teriaknya. Ratih menghampiri emak, berusaha menenangkannya. "Ratih membuangnya, Mak. Sebagian di gundang sudah melempem. Buat apa Emak masih membuat makanan ndeso itu?!” Emak masih menangis. Emak akan terus membuat rengginang. Terserah Emak saja. Ratih mau pergi. Ada dinas keluar kota, tiga hari. Emak langsung menanak beras ketan yang masih tersisa. Setelah matang, ditiriskan dan dibentuknya lingkaran-lingkar...

Kampanye Ayah Setiap Pagi - Fiksi Mini Dimas Nugraha

Gambar
Kampanye (c) Pixabay Dimas Nugraha Kampanye Ayah Setiap Pagi “Pilih saya! Maka rakyat akan makmur dan sejahtera! Tidak ada kemiskinan! Biaya sekolah dan rumah sakit saya gratiskan!” serunya. Setiap hari Ayah berpidato di atas meja makan, semenjak beliau kalah dalam pemilu. Di Tempat Kejadian Bencana Alam Raut wajahnya berubah tegang dan khawatir. Ia menyuruh pengawalnya mendekat lalu berbisik, “Di mana para wartawan? Padahal aku sudah keluarkan banyak dana untuk ini.” Bocah Penjual Koran Di bangku stasiun ia duduk sendirian. Memperhatikan judul koran yang dipegangnya itu dengan cermat. Sudah lama ia ingin sekali membaca. Dimuat di LiniFiksi pada edisi 54 (21 Agustus 2017) http://linikini.id/linifiksi/4167/linifiksi-fiksimini-dimas-nugraha ================================== Dimas Nugraha, penulis kelahiran Kudus, 09 Juni 1998. Suka membaca dan menulis fiksi. Pecandu lagu-lagu Gun’s N’ Roses, kopi dan puisi Bapak Sapardi. Tercatat sebagai anggota di ...