Materi

[Materi][twocolumns]

Menulis Hal-hal yang Dekat dengan Kita [Kelas Menulis 4/8/18]


Menulis Hal-hal yang Dekat dengan Kita


Terkadang kita terlalu rumit memikirkan apa yang akan kita tulis. Bahkan kita pusing sendiri mencari-cari ide untuk dituangkan dalam tulisan. Padahal sebenarnya ada banyak hal yang dapat kita tulis di sekitar kita. Kita hanya perlu lebih peka lagi. Perhatikan sekitar, rasakan hal-hal di sekitar, bahkan hal sekecil pun itu. Di situlah banyak ide yang bisa kita kembangkan.

Tak Perlu Terlalu Banyak Riset

Menulis hal-hal yang ada di sekitar kita itu lebih mudah dibanding kita menulis hal yang terlalu rumit, bahkan belum pernah kita jangkau. Dengan menulis hal di sekitar kita yang memang terlihat oleh kita, bisa kita rasakan, dan kita alami sendiri akan jauh lebih detail dalam memaparkannya dalam cerita. Berbeda jika kita menulis hal yang jauh, yang belum pernah kita jelajahi, belum pernah kita rasakan, bahkan itu hanya ada di anganan saja. Kita akan perlu riset mendalam, mencari hal-hal pendukung, bahkan terkadang kita dituntut merasakannya sendiri agar apa yang akan kita tulis feel-nya dapet dan tidak melompong.

Untuk Berlatih Menulis

Menulis hal sederhana di sekitar kita cocok bagi kita yang sedang berlatih menulis. Kita bisa menulis hal pribadi yang pernah dialami dengan bumbu fiksi agar lebih segar dan bisa dinikmati orang banyak. Biasanya kalau hanya menulis hal pribadi saja seperti menulis buku diary, belum tentu cocok dibaca orang lain.

Kamu juga bisa melibatkan orang-orang di sekitarmu untuk dimasukkan dalam cerita, atau bahkan dia tokoh utamanya. Tetap bumbui hal-hal lain agar tidak terlalu mencolok. Ada banyak hal yang bisa ditulis. Ada banyak hal yang bisa diceritakan.


Lalu, bagaimana dengan kalian? Lebih baik menulis hal yang berada di dekat kita, atau hal baru yang membutuhkan riset mendalam?
Yuk bagikan pengalamanmu... kita saling berbagi pengalaman agar kita semakin kaya dengan pengalaman.

Tanggapan
Saya setuju dengan apa yang di sampaikan. Terus terang, jika kita menceritakan apa yang pernah kita alami itu lebih mudah menyampaikannya kepada para pembaca, juga saat menulis itu rasa gregetnya itu terasa.. Dan benar saja, saya pernah mencoba membandingkan  menulis cerita yang di dalamnya sebenarnya adalah kita sendiri tokohnya, itu pembacanya lebih banyak dibanding cerita yang hanya bagian dari untaian imajinasi gaje (tidak jelas) saya.. Dan mungkin, penulis juga bukan hanya membaca saja untuk mendapat inspirasi, namun juga kita harus terjun sendiri dalam beberapa peristiwa yang kita anggap itu layak dan memungkinkan diminati para pembaca. Sebab, penulis lebih baik juga harus mengalami kejadian itu sendiri dahulu, sebelum memulai menuangkannya dalam sebuah tulisan yang nantinya akan dibaca para pembaca.. Begitulah, pendapat dari saya..

Tanggapan
Lebih baik tidak usah memikirkan respon pembaca akan bagaimana nantinya, karena tulisan ibarat rasa dan selera, setiap pembaca punya daya tariknya masing-masing.

Tanggapan
Setiap karya punya pembacanya sendiri. Boleh mengkritik, tidak boleh mengutuk sebuah karya.

Tanggapan
Selama ini aku nulis (yang menurutku oke) itu yg dekat ama pengalamanku. Misal aku jalan-jalan ke Waduk Wilalung. Aku tulis aja separgraf, atau sebait.

Tanggapan
Mungkin, para pembaca yang mungkin saja jadi pembenci itu, cuma nyari kesalahan kita dalam menulis saja. Kata guru bahasa Indonesia saya, kalau kita mau menanggapi karya orang lain, jangan hanya dicari kesalahannya saja. Tapi juga dicari sisi baiknya juga. Kalau terdapat kesalahan di sebuah karya tersebut, itu udah biasa. Jadi, mending kesalahan itu kita ubah menjadi sebuah pelajaran bersama saja.

Tanggapan
Menulis dengan sepenuh hati. Gunakan rasa, hati dan panca indera dalam menulis dan mengisahkannya.


Lalu, bagaimana pendapatmu?
Bisa juga sharing di kolom komentar.

No comments:

Kegiatan

[Kegiatan][bleft]

Karya Kami

[Karya Kami][bleft]

Galeri

[Galeri][twocolumns]